Berdakwah dengan Pandangan Kasih Sayang: Refleksi atas Pemikiran Imam al-Ghazali di Era Digital

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan terbukanya ruang interaksi sosial di dunia maya, fenomena dakwah kini menghadapi tantangan baru. Platform digital menjadi ladang dakwah sekaligus arena perdebatan, di mana kecenderungan untuk menghakimi atau “menghujat” pelaku maksiat sering kali lebih menonjol daripada menyeru dengan kasih sayang. Dalam konteks inilah, pandangan Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn—khususnya dalam Kitāb Ādāb al-Ulfah wa al-Ukhuwwah—menawarkan paradigma dakwah yang mendalam dan penuh hikmah.

Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa ulama salaf berbeda pandangan dalam menghadapi orang-orang fasik. Sebagian berpendapat bahwa pelaku maksiat harus dijauhi dan dihindari, agar tidak terpengaruh oleh perilaku buruk mereka. Sebagian lain justru berpendapat sebaliknya: bahwa menjauhi mereka akan membuat mereka semakin terasing dan jauh dari bimbingan kebaikan.

Namun, Imam al-Ghazālī kemudian mengutip pandangan golongan ketiga, yakni para ‘ārifīn billāh (orang yang mengenal Allah secara mendalam), yang menempatkan persoalan ini dalam kerangka spiritual yang lebih lembut dan inklusif. Mereka membagi manusia menjadi tiga tingkatan:

“Orang yang taat kepada Allah adalah kekasih yang dicintai.
Orang yang bermaksiat dibenci karena maksiatnya, tetapi dicintai karena imannya, dan diharapkan taubatnya.

Sedangkan orang yang lalai dianggap seperti orang sakit, yang wajib dikasihani dan didoakan agar sembuh.”
(Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 2, Kitāb Ādāb al-Ulfah wa al-Ukhuwwah)

Dari penjelasan ini, Imam al-Ghazālī menunjukkan tiga lapisan spiritual dalam memandang pelaku maksiat:

  1. Tingkatan al-Bughdh lillāh – membenci kemaksiatan semata karena Allah, bukan karena ego pribadi. Sikap ini menjaga kemurnian hati dari kompromi terhadap dosa.
  2. Tingkatan al-I‘tidāl – bersikap seimbang; tidak membenci pelaku secara pribadi dan tidak pula mendekati secara berlebihan. Prinsip ini menjaga keseimbangan antara amar ma’ruf dan nahi munkar.
  3. Tingkatan al-Raḥmah – tingkatan tertinggi dari para ‘ārifīn billāh, yaitu memandang pelaku maksiat dengan kasih sayang, sebagaimana seorang tabib memandang pasiennya. Dakwah bukan lagi bentuk konfrontasi, melainkan bentuk empati spiritual.

Di era digital, umat Islam menghadapi realitas bahwa “ahli maksiat” tidak hanya hadir di ruang nyata, tetapi juga di ruang maya: dalam komentar, unggahan, dan perilaku daring. Sayangnya, sebagian dai atau netizen muslim sering terjebak dalam pola dakwah yang reaktif — menghukum sebelum memahami, mencela sebelum mendoakan.

Padahal, prinsip Imam al-Ghazālī mengajarkan bahwa dakwah sejati harus berangkat dari kasih sayang, bukan kemarahan. Dalam konteks media sosial, hal ini berarti mengedepankan pendekatan edukatif, dialogis, dan penuh hikmah — bukan sarkasme atau hujatan terbuka.

Firman Allah ﷻ menegaskan hal ini:

“ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ”
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. an-Naḥl: 125)

Di sinilah relevansi pemikiran al-Ghazālī terasa begitu kuat. Dalam dunia yang dipenuhi ujaran kebencian dan polarisasi digital, pandangan beliau mengembalikan ruh dakwah pada esensinya: rahmat dan penyembuhan ruhani.

Jika pelaku maksiat diibaratkan “orang sakit”, maka pendakwah adalah “dokter ruhani”. Tugasnya bukan mengutuk penyakit, tetapi membantu pasien agar sembuh. Dalam ruang digital, pendekatan ini berarti menebar empati, memberikan pencerahan, dan menuntun manusia dengan kelembutan, bukan dengan vonis.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

«اللهم اهدِ قومي فإنهم لا يعلمون»
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. al-Bukhārī)

Doa ini menjadi cermin dari al-raḥmah, tingkatan tertinggi sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazālī.

Pemikiran Imam al-Ghazālī mengajarkan bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada batas moral formal, tetapi harus menembus ke kedalaman spiritual: bagaimana kita memandang manusia sebagai makhluk yang berpotensi untuk berubah dan kembali kepada Allah.

Di era digital yang penuh kegaduhan dan keterbukaan, pendekatan al-raḥmah inilah yang paling dibutuhkan—karena dunia maya tidak memerlukan lebih banyak penghakiman, tetapi lebih banyak kasih sayang yang menuntun kepada hidayah.

Oleh: Abdullah (Musyrif Mahad Khulafaur Rasyidin Insan Mandiri Cibubur)


Post Views: 2




source
INFO PPDB SMPIT-SMAIT INSAN MANDIRI CIBUBUR

Website: www.insanmandiri.sch.id
WhatsApp: 0822 5899 2414

By admin