BNI Pacu Ekosistem UMKM lewat Pameran Puspa Nuswantara 2026
Bank Negara Indonesia (BNI) kembali meneguhkan komitmennya terhadap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan terlibat langsung dalam Pameran Puspa Nuswantara 2026. Ajang ini tidak s...
Bank Negara Indonesia (BNI) kembali meneguhkan komitmennya terhadap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan terlibat langsung dalam Pameran Puspa Nuswantara 2026. Ajang ini tidak sekadar pameran produk, melainkan sebuah ekosistem terintegrasi yang dirancang untuk menjawab tiga tantangan utama pelaku UMKM: akses ke pasar yang lebih luas, adopsi pembayaran digital, dan peningkatan daya saing melalui promosi produk budaya seperti batik dan kerajinan kriya.
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2025, sektor UMKM menyerap lebih dari 97% tenaga kerja dan menyumbang sekitar 61% terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun, hanya sekitar 18% dari total pelaku UMKM yang telah memanfaatkan teknologi digital dalam memasarkan atau mengelola usahanya. Kesenjangan inilah yang coba dijembatani BNI melalui kehadirannya di Puspa Nuswantara.
Membuka Lebar Pintu Pasar
Pameran yang berlangsung di Jakarta Convention Center pada 12–15 Agustus 2026 ini mempertemukan ribuan pengunjung, termasuk pembeli dari luar negeri dan pelaku ritel besar, dengan lebih dari 500 UMKM binaan BNI. Di sini, para pengusaha kecil mendapatkan kesempatan langsung untuk memamerkan produk unggulan mereka tanpa dikenakan biaya sewa stan, sebuah langkah yang secara signifikan menurunkan beban promosi. "Ini bukan sekadar ajang jualan, tetapi sarana edukasi bagi UMKM agar memahami selera pasar global," ujar Direktur Utama BNI dalam sambutannya.
Dengan menghadirkan sesi business matching, BNI memfasilitasi pertemuan antara pelaku UMKM dengan calon mitra dan investor. Tahun ini, target nilai transaksi yang dihasilkan dari kegiatan tersebut mencapai Rp 20 miliar, meningkat 40% dibandingkan pencapaian pada pameran serupa tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan optimisme pemulihan daya beli pasca-pandemi sekaligus meningkatnya minat terhadap produk-produk unik Nusantara.
Digitalisasi Transaksi, Pilar Kedua
Aspek lain yang tak kalah penting adalah dorongan terhadap penggunaan sistem pembayaran nontunai. Selama pameran berlangsung, seluruh transaksi diwajibkan menggunakan aplikasi BNI Mobile Banking atau QRIS BNI. Bagi UMKM yang belum terbiasa, BNI menyediakan tim pendamping yang melakukan onboarding secara real-time, mulai dari pembukaan rekening digital hingga simulasi transaksi. Data menunjukkan, hingga hari ketiga, lebih dari 80% peserta baru berhasil melakukan minimal satu kali transaksi digital, sebuah capaian yang signifikan mengingat sebagian besar dari mereka sebelumnya bergantung pada uang tunai.
Digitalisasi tidak berhenti pada pembayaran. BNI juga memperkenalkan dashboard analitik sederhana yang terhubung dengan akun bisnis UMKM, sehingga para pelaku usaha dapat memantau omzet harian, stok terlaris, dan profil konsumen. Fitur ini memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memberikan rekomendasi strategi penjualan. Seorang pemilik usaha batik dari Pekalongan, Sari, mengaku bahwa sejak menggunakan alat ini, ia mampu mengidentifikasi bahwa desain batik bermotif mega mendung lebih diminati oleh pembeli dari Jawa Tengah sehingga ia bisa menyesuaikan produksi.
Promosi Batik dan Kriya Nusantara
Puspa Nuswantara juga menjadi panggung bagi batik dan kerajinan kriya untuk bersinar. BNI mengkurasi lebih dari 200 jenis batik tulis dan cap dari berbagai daerah, termasuk batik Lasem, batik Gedog Tuban, dan tenun ikat dari Nusa Tenggara Timur. Pameran ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga menampilkan proses pembuatan secara langsung melalui demonstrasi pengrajin, sehingga pengunjung dapat menghargai nilai budaya di balik setiap helai kain.
Untuk memperkuat eksistensi produk Nusantara di pasar global, BNI bekerja sama dengan platform e-commerce internasional untuk mendaftarkan produk-produk UMKM tersebut ke dalam katalog digital. Dengan demikian, ketika pameran usai, produk tetap dapat dijangkau oleh konsumen mancanegara. Inisiatif ini sejalan dengan program pemerintah "Bangga Buatan Indonesia" dan upaya peningkatan ekspor produk kreatif yang tahun lalu tumbuh 12,4% year-on-year, dari US$21,5 miliar menjadi US$24,2 miliar.
Dampak Berkelanjutan bagi Ekosistem
Lebih dari sekadar acara seremonial, partisipasi BNI di Puspa Nuswantara menunjukkan pergeseran peran perbankan dari sekadar penyalur kredit menjadi fasilitator ekosistem. Dengan mengintegrasikan akses pasar, pembayaran digital, dan promosi dalam satu paket, BNI menciptakan efek multiplier yang memperkuat rantai nilai UMKM.
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kesuksesan program semacam ini perlu diukur dari keberlanjutan pasca-pameran. "Apakah UMKM mampu mempertahankan penjualan setelah event berakhir? Itu yang menjadi ujian sebenarnya," kata Rina, pengajar dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Kendati demikian, data awal dari BNI menunjukkan bahwa 65% peserta pameran tahun lalu berhasil mendapatkan kontrak pembelian rutin minimal tiga bulan setelah acara, sebuah sinyal positif bahwa model pendampingan terpadu mampu menghasilkan pertumbuhan yang nyata.
Ke depan, BNI berencana memperluas jangkauan program ini ke lima kota lain sepanjang tahun 2026 dengan modul pelatihan yang lebih terstruktur, mencakup manajemen keuangan, branding, dan sertifikasi produk. Dengan dukungan perbankan yang semakin kontekstual, UMKM Nusantara diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga unggul di arena ekonomi domestik maupun global.
Comments (0)