Destry Damayanti Paparkan Arah Kebijakan Usai Pimpin BI
Pasar keuangan dan pelaku usaha tanah air menaruh perhatian besar pada pernyataan resmi pertama Destry Damayanti setelah ia resmi mengemban amanah sebagai Penjabat Gubernur Bank Indonesia. Dalam forum...
Pasar keuangan dan pelaku usaha tanah air menaruh perhatian besar pada pernyataan resmi pertama Destry Damayanti setelah ia resmi mengemban amanah sebagai Penjabat Gubernur Bank Indonesia. Dalam forum yang dihelat secara tertutup bersama jajaran pimpinan bank sentral, Destry menyampaikan sikap dan prioritas strategisnya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih tidak menentu.
“Stabilitas adalah fondasi,” ucapnya membuka sesi diskusi. Ia menekankan bahwa Bank Indonesia akan tetap berpegang pada mandat utama: menjaga stabilitas nilai rupiah, baik terhadap inflasi domestik maupun nilai tukar. Namun, Destry juga memberikan sinyal kuat bahwa era digitalisasi dan inklusi keuangan akan menjadi pilar kedua yang tak kalah penting dalam masa transisi kepemimpinannya.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons positif dari pelaku pasar yang sebelumnya sempat diliputi ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter pasca pergantian tongkat komando. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat tertekan pada sesi perdagangan pagi berhasil berbalik menguat tipis setelah kutipan pernyataan Penjabat Gubernur beredar di kalangan analis.
Prioritas Stabilitas Moneter di Tengah Gejolak Global
Destry mengakui bahwa tantangan eksternal masih sangat dominan. Ketidakpastian arah suku bunga global, fragmentasi geopolitik, dan divergensi pertumbuhan ekonomi antarnegara kian menambah kompleksitas perumusan kebijakan. Ia merujuk pada data terkini yang menunjukkan inflasi inti nasional bertahan pada level 3,1 persen secara tahunan, sedikit di atas titik tengah target bank sentral.
“Kita tidak bisa lengah. Meski tekanan inflasi dari sisi penawaran mulai mereda, imported inflation masih membayangi karena pergerakan nilai tukar yang rentan terhadap sentimen eksternal,” jelasnya. Oleh karena itu, Destry menegaskan bahwa bauran kebijakan — mulai dari suku bunga acuan, intervensi valas, hingga operasi moneter — akan terus ditempuh secara terukur dan proporsional.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas sektor keuangan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kecukupan modal perbankan nasional masih berada di level 27,8 persen, jauh di atas ambang batas minimum. Sementara itu, kredit bermasalah (NPL) gross tetap terjaga di kisaran 2,3 persen. “Fundamental perbankan kita solid. Ini menjadi bantalan yang kuat dalam menghadapi potensi guncangan,” imbuhnya.
Transformasi Digital: Dari QRIS ke Rupiah Digital
Bagian lain dari pernyataan yang menyita perhatian adalah fokus Destry pada akselerasi transformasi digital di sistem pembayaran. Ia menyebut bahwa volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah menembus angka 3,8 miliar transaksi dengan nilai total lebih dari Rp425 triliun sepanjang tahun berjalan. Angka ini memperlihatkan pergeseran masif menuju cashless society.
Destry mengarahkan agar infrastruktur digital, termasuk BI-FAST dan pengembangan Rupiah Digital, diperkuat secara paralel. “Efisiensi sistem pembayaran tidak hanya menurunkan biaya transaksi bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat transmisi kebijakan moneter,” paparnya. Ia menambahkan bahwa perluasan ekosistem digital harus inklusif, menjangkau usaha mikro dan kecil, serta daerah tertinggal yang selama ini masih menghadapi kesenjangan akses keuangan.
Langkah konkret yang akan segera diluncurkan, menurut Destry, adalah pilot project pemanfaatan Rupiah Digital untuk transaksi antarnegara di kawasan ASEAN. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan regional, sejalan dengan inisiatif Local Currency Settlement (LCS) yang sudah berjalan.
Sinergi dengan Pemerintah dan Prospek Ekonomi
Destry tak hanya berbicara soal ranah moneter. Ia menekankan pentingnya harmonisasi kebijakan antara Bank Indonesia, pemerintah, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). “Saya akan membuka ruang diskusi yang lebih intensif dengan Menteri Keuangan dan OJK. Koordinasi adalah kunci agar stimulus fiskal dan kebijakan moneter berjalan searah,” tuturnya.
Dalam proyeksi ekonomi, Destry masih optimistis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mampu berada dalam rentang 5,0 hingga 5,4 persen di tahun ini. Konsumsi domestik yang terjaga, ditambah dengan reinvigorasi investasi, diyakini akan menjadi penopang utama di tengah melemahnya permintaan global. Meskipun demikian, ia mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mewaspadai risiko pengetatan likuiditas global yang dapat memicu pembalikan aliran modal asing.
Pernyataan pertama Destry Damayanti ini secara umum memberikan gambaran bahwa transisi kepemimpinan di bank sentral tidak akan mengubah arah besar kebijakan yang telah terbangun. Pendekatan kehati-hatian yang menjadi ciri khas Destry diharapkan dapat menjaga kepercayaan investor, sembari mendorong inovasi yang lebih progresif di era digital. Kini, publik menanti langkah konkret berikutnya, terutama dalam respons terhadap gejolak pasar keuangan yang masih terus berlangsung.
Comments (0)