Harga Ayam dan Telur di Jakarta Merangkak Naik
Sejumlah pasar tradisional di Jakarta mencatat kenaikan harga pada komoditas protein utama, yakni daging ayam ras dan telur ayam ras, dalam sepekan terakhir. Perubahan ini terpantau di beberapa titik ...
Sejumlah pasar tradisional di Jakarta mencatat kenaikan harga pada komoditas protein utama, yakni daging ayam ras dan telur ayam ras, dalam sepekan terakhir. Perubahan ini terpantau di beberapa titik pemantauan harga yang menjadi acuan bagi konsumen di ibu kota.
Pergerakan Harga di Lapangan
Berdasarkan penelusuran di Pasar Senen, harga daging ayam broiler naik dari rata-rata Rp38.000 menjadi Rp42.000 per kilogram. Di Pasar Kramat Jati, lonjakan serupa terjadi dengan harga yang kini menyentuh Rp43.000 per kilogram untuk potongan karkas utuh. Pedagang di Pasar Minggu melaporkan bahwa telur ayam ras yang sebelumnya dijual di kisaran Rp28.000–Rp30.000 per kilogram, kini bertengger di posisi Rp32.000–Rp34.000 per kilogram.
Kenaikan tidak terjadi secara serempak di semua lokasi, namun tren umum menunjukkan pergerakan naik yang cukup terasa bagi kantong rumah tangga. Seorang pedagang daging ayam di Pasar Kebayoran Lama, Suryati (47), mengungkapkan bahwa ia terpaksa menaikkan harga jual karena harga beli dari pemasok sudah lebih dulu naik. "Dari agen sudah naik sekitar Rp3.000 per kilogram sejak akhir pekan lalu. Mau tidak mau kami ikut menyesuaikan," ujarnya. Kondisi serupa disampaikan oleh Sumarni (52), pedagang telur di Pasar Palmerah, yang mencatat kenaikan harga dari peternak mencapai Rp4.000 per kilogram dalam beberapa hari terakhir.
Pemicu dari Sisi Pasokan dan Permintaan
Pengamat ekonomi pertanian dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Prasetyo, menjelaskan bahwa kenaikan harga ayam dan telur ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor struktural dan musiman. "Di satu sisi, biaya pakan ternak mengalami kenaikan sekitar 5–7 persen akibat fluktuasi harga jagung dan bungkil kedelai di pasar global. Di sisi lain, mendekati periode libur panjang dan perayaan hari besar, permintaan rumah tangga maupun sektor usaha kuliner cenderung meningkat," jelasnya.
Selain itu, gangguan distribusi dari sentra produksi di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ke Jakarta turut berperan. Cuaca buruk di beberapa jalur pantura memperlambat pengiriman, sehingga stok di pasar induk sempat menipis. Data dari Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (PPUI) menunjukkan produksi telur nasional dalam empat minggu terakhir memang tidak mengalami defisit besar, namun disparitas harga di tingkat produsen dan konsumen melebar akibat biaya logistik yang membengkak.
Dampak pada Konsumen dan Sektor Usaha Kecil
Kenaikan harga ayam dan telur, sebagai sumber protein paling terjangkau bagi mayoritas masyarakat, langsung memengaruhi daya beli. Seorang ibu rumah tangga di Matraman, Dian Purnamasari, mengaku harus mengurangi porsi belanja daging ayam dan beralih ke sumber protein lain seperti tahu dan tempe. "Biasanya saya beli satu kilogram utuh, sekarang paling setengah kilogram, sisanya ditambah tempe," tuturnya. Imbas ini juga dirasakan oleh pelaku usaha mikro di sektor makanan, seperti penjual nasi goreng dan warung pecel lele, yang harus merelakan margin keuntungan menipis atau menaikkan harga jual sedikit demi sedikit.
Di sisi lain, produsen pakan ternak dan peternak skala kecil justru berada dalam situasi yang dilematis. Meski harga jual di tingkat konsumen naik, lonjakan biaya pakan menggerus keuntungan yang bisa mereka peroleh. Sejumlah peternak mandiri di kawasan Bogor dan Tangerang melaporkan bahwa marjin antara biaya produksi dan harga jual ayam hidup semakin tipis, bahkan di bawah Rp2.000 per ekor untuk ukuran potong.
Respons dan Prospek ke Depan
Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta menyatakan telah memantau pergerakan harga dan berkoordinasi dengan Bulog serta distributor untuk memastikan pasokan tetap stabil. Kepala DKPKP, Amir Faisal, mengatakan bahwa pihaknya telah menggelar operasi pasar di beberapa titik untuk menyediakan telur dengan harga subsidi seharga Rp30.000 per kilogram. "Operasi pasar akan kami perluas pekan depan, kami juga mengajak masyarakat untuk tidak membeli secara berlebihan atau panic buying karena pasokan sebenarnya masih cukup," katanya dalam keterangan resmi.
Para pelaku pasar memperkirakan tren kenaikan ini masih akan bertahan setidaknya hingga awal bulan depan, sebelum akhirnya mereda seiring dengan pulihnya distribusi dan stabilnya harga pakan. Proyeksi tersebut juga bergantung pada kebijakan impor jagung yang kini tengah dibahas di tingkat kementerian. Apabila relaksasi impor diberikan, biaya pakan dapat turun dan harga ayam serta telur di tingkat konsumen diharapkan kembali ke posisi normal di kisaran Rp36.000–Rp38.000 per kilogram untuk ayam dan Rp26.000–Rp28.000 per kilogram untuk telur.
Sementara itu, konsumen tetap diimbau untuk cermat dalam memilih dan membandingkan harga di pasar tradisional maupun pasar modern yang seringkali menawarkan paket promo sebagai alternatif. Dinamika harga pangan di Jakarta kembali menjadi cerminan betapa rentannya rantai pasok terhadap perubahan kecil pada biaya produksi dan distribusi.
Comments (0)