Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita terjebak dalam kebiasaan meminta orang lain melakukan sesuatu, sementara kita sendiri belum mampu melaksanakannya. Padahal, prinsip utama dalam pendidikan dan dakwah adalah memberikan teladan terlebih dahulu sebelum mengajak atau memerintahkan.
Prinsip ini tercermin jelas dalam keteladanan Rasulullah ﷺ yang memiliki konsistensi luar biasa dalam mencontohkan perilaku baik sebelum memerintahkannya kepada umat. Beliau jarang sekali memberi perintah secara langsung, melainkan lebih memilih menunjukkan melalui amal nyata. Misalnya dalam urusan salat berjamaah, Nabi ﷺ selalu menjadi orang pertama yang hadir di masjid dan tidak meninggalkan salat berjamaah kecuali dalam keadaan uzur. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa beliau bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan shalat sendirian.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keteladanan Nabi ﷺ inilah yang membuat para sahabat bersemangat untuk selalu berjamaah di masjid, bahkan ketika hujan atau dalam kondisi sulit. Hal ini menunjukkan bahwa teladan nyata jauh lebih kuat pengaruhnya daripada sekadar perintah.
Demikian pula dalam kebiasaan berzikir dan berwirid. Rasulullah ﷺ senantiasa berdzikir setelah salat, memuji Allah dengan kalimat “Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar” masing-masing tiga puluh tiga kali. Para sahabat meniru kebiasaan itu hingga menjadi budaya spiritual dalam kehidupan umat Islam. Dengan demikian, lingkungan yang dibangun melalui keteladanan Rasulullah ﷺ melahirkan tradisi ibadah yang kuat dan ikhlas, bukan karena paksaan, melainkan karena cinta dan teladan yang menginspirasi.
Metode “lakukan dahulu, baru mengajak kemudian” bukan hanya menjadi prinsip pribadi, tetapi juga telah di ikuti oleh para ulama. Salah satu kisah yang masyhur datang dari Allahu yarham Mbah Yai Hamid Pasuruan. Dikisahkan, seorang ibu meminta beliau menasihati anaknya yang terkena diabetes agar berhenti mengonsumsi gula dan permen. Namun, Mbah Hamid tidak langsung menasihati. Beliau meminta sang ibu kembali tiga hari kemudian.
Ketika sang ibu datang kembali, Mbah Hamid hanya berkata lembut kepada sang anak: “Nak, sudah ya. Jangan makan gula dan permen lagi. Kasihan ibumu.” Seketika anak itu menurut, dan sejak saat itu berhenti mengonsumsi gula. Sang ibu yang heran kemudian bertanya mengapa nasihat beliau begitu ampuh. Mbah Hamid menjawab dengan penuh kejujuran: “Saat engkau datang pertama kali, saya sendiri masih mengonsumsi gula. Maka saya tidak berani menasihati. Selama tiga hari itu, saya tirakat berhenti makan gula. Setelah itu, barulah saya berani memberi nasihat.”
Kisah ini memberikan pelajaran berharga bahwa sebuah nasihat akan lebih mudah diterima jika diiringi dengan keteladanan nyata.
Pesan ini sejalan dengan keterangan para ulama. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan:
مَنْ شَارَ اِلَِى الْعِبَادَةِ بِدُوْنِ قُدْوَةٍ كَمَنْ شَارَ غَيْرَهُ اِلَى طَرِيْقٍ لَمْ يَمْشيْهِ
Barangsiapa mengajak orang lain beribadah tanpa memberi teladan, maka ia seperti orang yang menunjukkan jalan kepada orang lain, sementara ia sendiri tidak pernah melewatinya. (Ihya’ Ulumuddin, Juz 3, h. 78).
Begitu pula dalam Ta’limul Muta’allim, Syekh al-Zarnuji menekankan pentingnya adab seorang guru yang mendahulukan amal sebelum mengajar:
يَنبَغِي لِلمُعَلِّمِ أَنْ يَكُونَ عَامِلًا بِعِلْمِهِ، لِأَنَّ العِلْمَ بِلا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلا ثَمَرٍ
Seharusnya seorang guru mengamalkan ilmunya, sebab ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah. (Ta’limul Muta’allim, h. 17).
Dua nasihat klasik ini menegaskan bahwa teladan nyata adalah ruh dari pendidikan. Jika seseorang belum mampu mengamalkan suatu kebaikan, sebaiknya ia jujur mengakuinya, bukan justru memaksa orang lain.
Pada akhirnya, memberi teladan lebih kuat daripada sekadar kata-kata. Menyuruh tanpa melaksanakan justru akan menjauhkan orang lain dari pesan yang kita sampaikan. Maka, sudah selayaknya kita menanamkan prinsip ini: lakukan dahulu, baru mengajak kemudian.
Oleh: Abdullah, S.Pd (Musyrif Mahad Khulafaur Rasyidin Insan Mandiri Cibubur)
Post Views: 1
source
INFO PPDB SMPIT-SMAIT INSAN MANDIRI CIBUBUR
Website: www.insanmandiri.sch.id
WhatsApp: 0822 5899 2414
