Destry Damayanti Dinilai Tepat Pimpin BI Jaga Stabilitas Rupiah
Jakarta, Beritadua – Dinamika nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis baru dalam beberapa pekan terakhir memunculkan sorotan tajam terhadap kepemimpinan Bank Indonesia (BI). Di ten...
Jakarta, Beritadua – Dinamika nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level psikologis baru dalam beberapa pekan terakhir memunculkan sorotan tajam terhadap kepemimpinan Bank Indonesia (BI). Di tengah tekanan global yang kian kompleks, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyampaikan pandangan resmi bahwa pengangkatan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Pjs) Gubernur BI dipandang sebagai langkah strategis untuk menenangkan gejolak pasar dan menjaga fundamental ekonomi nasional.
Keputusan Sesuai Koridor Hukum
Wakil Ketua Komisi XI DPR, Mohamad Hekal, menegaskan bahwa penunjukan Destry Damayanti sebagai Pjs Gubernur BI telah berjalan sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia. Regulasi tersebut memberikan ruang bagi pengangkatan pejabat sementara untuk memastikan roda organisasi bank sentral tetap berjalan tanpa hambatan, terutama saat posisi Gubernur definitif sedang dalam proses transisi. "Ini bukan langkah darurat yang melanggar prosedur. Justru, ini menunjukkan kehati-hatian kita dalam menjaga tata kelola yang baik," ujar Hekal dalam keterangannya. Ia menekankan bahwa aspek legalitas menjadi fondasi utama untuk membangun kembali kepercayaan pelaku pasar terhadap kebijakan moneter nasional.
Penunjukan tersebut dilakukan di tengah kurs rupiah yang berfluktuasi cukup lebar, dipicu oleh penguatan dolar AS yang agresif dan ketidakpastian pemangkasan suku bunga The Fed. Secara fundamental, pasar membutuhkan sinyal kuat bahwa kendali kebijakan moneter berada di tangan yang tepat, memiliki pengalaman lintas siklus krisis, dan memahami seluk-beluk sektor keuangan domestik. Destry yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI dianggap memenuhi seluruh kriteria tersebut.
Profil Destry: Jejak Panjang di Pusaran Kebijakan
Destry Damayanti bukanlah nama baru di lingkar pengambil kebijakan. Ia memiliki portofolio karir yang merentang dari regulator, praktisi pasar modal, hingga akademisi. Pengalamannya menjabat sebagai Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan posisi senior di berbagai lembaga keuangan internasional memberinya perspektif unik dalam membaca pergerakan capital outflow dan tekanan terhadap likuiditas. Di satu sisi, pengalamannya di LPS memberinya sensitivitas terhadap risiko sistemik perbankan. Di sisi lain, jam terbangnya di pasar keuangan memungkinkan ia merespons dinamika kurs dengan instrumen yang akurat dan terukur.
Dalam konteks menjaga kurs rupiah, Destry dikenal vokal mengadvokasi pentingnya intervensi di pasar valas serta pengelolaan devisa yang prudent. Ia paham betul kapan harus menggunakan cadangan devisa untuk meredam volatilitas tanpa mengorbankan cadangan di titik kritis. Data internal BI menunjukkan bahwa selama ia menempati posisi Deputi Gubernur Senior, operasi moneter untuk stabilisasi rupiah berjalan cukup efektif, dengan tingkat deviasi kurs yang lebih rendah dibanding periode tekanan serupa di tahun-tahun sebelumnya.
Dua Perspektif: Optimisme Pasar versus Ujian Independensi
Pandangan DPR terhadap penunjukan ini menimbulkan dua arus persepsi di kalangan analis. Pro: Mayoritas analis ekonomi menilai bahwa keputusan tersebut memberikan kepastian dan menghilangkan spekulasi negatif. Dengan mengusung figur yang sudah dikenal, BI dapat langsung fokus pada operasi pasar terbuka dan penyesuaian suku bunga acuan tanpa jeda adaptasi. Sentimen pasar dalam dua hari terakhir menunjukkan penguatan tipis pada rupiah ke level Rp15.400, mencerminkan respons netral-positif terhadap transisi ini.
Kontra: Namun, sebagian kalangan mengingatkan bahwa posisi Pjs tetaplah bersifat sementara, sehingga berpotensi menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan kebijakan jangka panjang. Kekhawatiran ini wajar mengingat tantangan eksternal seperti kenaikan harga minyak dan perang dagang masih membayangi. Namun, Hekal menepis keraguan itu dengan menyatakan bahwa transisi ini akan berjalan mulus karena Destry telah menjadi bagian dari inti perumusan kebijakan moneter di era Perry Warjiyo. "Tidak ada perubahan drastis. Pasar tidak perlu panik," tegasnya.
Fokus Jangka Pendek dan Proyeksi ke Depan
Dalam jangka pendek, prioritas Destry sebagai Pjs Gubernur BI adalah menjaga likuiditas agar tetap longgar namun terkendali, sambil terus memantau valuasi aset dalam sistem keuangan. Proyeksi rasio kecukupan modal (CAR) perbankan yang saat ini berada di atas 25% menjadi bantalan yang cukup tebal untuk menahan gejolak. Selain itu, Bank Indonesia diproyeksikan akan memaksimalkan instrumen proyeksi inflasi yang tertahan di kisaran 2,5-3% untuk tahun berjalan, sehingga memberikan ruang bagi kebijakan yang lebih fleksibel.
Sementara itu, dari sisi fundamental, neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatat surplus tipis pada triwulan sebelumnya menjadi salah satu alasan mengapa tekanan rupiah diyakini tidak akan berubah menjadi krisis. Destry diperkirakan akan menitikberatkan pada pendalaman pasar keuangan dan perkuatan koordinasi dengan pemerintah dalam hal manajemen fiskal untuk menghindari tarik-menarik kebijakan yang justru bisa menciptakan tren spekulatif pada rupiah.
Keputusan DPR untuk mendukung penuh penunjukan ini juga memberikan pesan politik yang kuat bahwa legislatif dan bank sentral berada dalam satu frekuensi yang sama. Ini menjadi modal penting di saat banyak negara berkembang lain justru mengalami kegaduhan antara otoritas moneter dan parlemen. Dengan pengalaman mumpuni dan legitimasi yang kuat, Destry Damayanti kini mengemban tugas berat bukan sekadar sebagai penjaga kurs, tetapi juga arsitek awal dari strategi moneter yang lebih adaptif menghadapi tahun politik dan ketidakpastian global yang telah menuju ke level tertingginya dalam satu dekade terakhir.
Comments (0)