Destry Damayanti, Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) resmi menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI, mengisi kekosongan pucuk pimpinan bank sentral yang ditinggalkan oleh gubernur sebelum...
Bank Indonesia (BI) resmi menunjuk Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI, mengisi kekosongan pucuk pimpinan bank sentral yang ditinggalkan oleh gubernur sebelumnya. Pengangkatan ini menjadi momen krusial di tengah dinamika ekonomi domestik dan global yang masih dibayangi ketidakpastian, terutama terkait arah suku bunga acuan The Fed, gejolak harga komoditas, dan stabilitas nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Bank Indonesia per 20 Mei 2025, kurs rupiah berada di level Rp15.680 per dolar AS, sementara inflasi tahunan tercatat sebesar 3,1% year-on-year, sedikit di atas batas tengah target BI sebesar 2,5%±1%. Destry, yang sebelumnya menjabat Deputi Gubernur Senior, kini memegang kendali penuh atas kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan hingga gubernur definitif terpilih.
Perjalanan Pendidikan dan Fondasi Intelektual
Sosok Destry Damayanti bukanlah nama baru di lingkaran pengambil kebijakan ekonomi Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), sebuah institusi yang telah melahirkan banyak teknokrat dan pemimpin ekonomi nasional. Kecintaannya pada ilmu ekonomi makro mendorongnya melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di Amerika Serikat. Destry meraih gelar Master of Arts in Economics dari Cornell University, Ithaca, New York, dengan spesialisasi di bidang moneter dan perdagangan internasional. Pendidikan pascasarjana ini membekalinya dengan kerangka analitis yang kuat serta perspektif global, yang kelak menjadi fondasi penting dalam setiap kebijakan yang dirumuskannya. Tidak berhenti di situ, ia juga mengantongi sertifikasi di bidang manajemen risiko keuangan dan kepemimpinan strategis dari berbagai lembaga internasional, menjadikannya figur teknokrat yang mengedepankan pendekatan berbasis bukti dan data.
Rekam Jejak di Sektor Keuangan dan Bank Sentral
Jauh sebelum menjabat di Bank Indonesia, Destry telah meniti karier di sektor keuangan global. Ia pernah menempati posisi analis senior dan ekonom di sejumlah bank investasi ternama, termasuk menjadi Chief Economist di Bank Mandiri, salah satu bank terbesar di Indonesia. Pengalaman di sektor perbankan memberinya pemahaman mendalam tentang mekanisme transmisi kebijakan moneter ke sektor riil, serta dinamika pasar keuangan. Saat menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, ia aktif merumuskan respons terhadap krisis, termasuk di masa pandemi COVID-19. Pada periode itu, BI di bawah pengaruhnya turut menginisiasi program pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana—sebuah langkah yang dikenal sebagai burden sharing—untuk mendukung pembiayaan penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi. Langkah tersebut, meskipun sempat menuai perdebatan, terbukti efektif menjaga likuiditas dan menekan biaya pinjaman pemerintah. Pada tahun 2020, ia diangkat sebagai Deputi Gubernur Senior BI, menjadikannya perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut.
Dua Perspektif: Stabilitas dan Risiko di Era Sementara
Penunjukan Destry sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI disambut dengan beragam perspektif. Di satu sisi, banyak pihak menilai pengalamannya sebagai modal berharga. Dengan memiliki pemahaman terhadap operasional bank sentral dan jaringan luas di kalangan pelaku pasar, Destry diyakini mampu menjaga kontinuitas kebijakan dan mengawal stabilitas makroekonomi. Tingkat inflasi yang relatif terkendali pada kisaran 3,1%, serta cadangan devisa yang per April 2025 tercatat sebesar 140,2 miliar dolar AS, merupakan bantalan yang memadai untuk meredam gejolak eksternal. Selain itu, suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate yang saat ini dipertahankan di level 6,00% dinilai telah berada pada level yang tepat untuk menyeimbangkan stabilitas dan upaya mendorong pertumbuhan.
Di sisi lain, terdapat kekhawatiran bahwa statusnya yang "sementara" dapat membatasi ruang gerak pengambilan keputusan strategis yang memerlukan cakrawala panjang. Capital outflow masih menjadi ancaman nyata, terutama jika The Fed kembali menaikkan suku bunga sepanjang sisa tahun 2025. Data pasar menunjukkan kepemilikan asing pada SBN domestik masih cukup tinggi, yakni sekitar 14,8% dari total outstanding, yang membuat pasar obligasi Indonesia rentan terhadap pembalikan arus modal. Tantangan lainnya adalah menjaga momentum pemulihan kredit perbankan yang tumbuh 9,3% year-on-year pada kuartal I-2025, di tengah likuiditas yang mulai mengetat. Para pengamat juga menyoroti perlunya sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah baru untuk memastikan defisit APBN tetap dalam batas aman.
"Destry memiliki kapasitas yang mumpuni, namun sebagai pejabat sementara, ia harus mampu membangun keyakinan pasar bahwa bank sentral tetap independen dan tidak akan ragu mengambil langkah-langkah antisipatif, termasuk intervensi di pasar valas jika diperlukan," ujar Ekonom Senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI).
Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan
Di bawah kepemimpinan sementara Destry, BI diramalkan akan tetap menempuh kebijakan yang cenderung dovish namun terukur. Fokus utama akan diarahkan pada penguatan nilai tukar rupiah agar tidak menyentuh level psikologis Rp16.000 per dolar AS, sekaligus menjaga imbal hasil obligasi tetap kompetitif. Intervensi ganda melalui operasi moneter dan pembelian SBN di pasar sekunder dipandang akan menjadi andalan. Instrumen seperti sekuritas rupiah bank sentral (SRBI) yang saat ini outstanding-nya mencapai Rp550 triliun akan terus dioptimalkan untuk menyerap likuiditas sekaligus menarik aliran dana asing. Dalam jangka pendek, pelaku pasar akan mencermati keputusan BI pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan, apakah suku bunga ditahan atau terdapat sinyal penurunan. Di sisi domestik, pengendalian harga pangan dan energi tetap menjadi kunci untuk menjaga ekspektasi inflasi agar tidak melonjak di atas target. Melalui seluruh dinamika itu, masa transisi ini sekaligus menjadi ujian bagi Destry Damayanti untuk membuktikan bahwa pengalaman dan kehati-hatian dapat menjadi kompas yang andal di tengah ketidakpastian.
Comments (0)