Saat Salat Iduladha, Presiden Nyaris Tewas Ditembak
Sejarah Indonesia pernah diwarnai sebuah insiden dramatis yang terjadi pada Hari Raya Iduladha, tepatnya 10 Zulhijah 1381 Hijriah. Seorang kepala negara nyaris kehilangan nyawa di tempat ibadahnya sen...
Sejarah Indonesia pernah diwarnai sebuah insiden dramatis yang terjadi pada Hari Raya Iduladha, tepatnya 10 Zulhijah 1381 Hijriah. Seorang kepala negara nyaris kehilangan nyawa di tempat ibadahnya sendiri, yaitu kompleks Istana Merdeka, Jakarta.
Peristiwa ini bermula saat presiden bersama para pejabat tinggi negara dan masyarakat umum melaksanakan salat Id berjamaah di lapangan istana. Semua berlangsung normal hingga salam akhir dikumandangkan.
Kronologi: Detik-Detik Percobaan Pembunuhan
Menurut arsip keamanan negara, presiden dan rombongan tiba di tempat salat pada pukul 06.30 waktu setempat. Beliau mengenakan pakaian safari khasnya, berbaur dengan ribuan jemaah yang memadati lapangan. Salat dipimpin oleh imam dari Masjid Istiqlal yang baru selesai dibangun. Usai salat, presiden berdiri di mimbar kecil yang disediakan untuk menyampaikan amanat hari raya.
Saat presiden mulai mengucapkan salam pembuka, tiba-tiba seorang pria di barisan ketiga bangkit dan melepaskan tembakan. Suara letusan pistol memecah keheningan pagi. Peluru pertama meleset, mengenai tiang bendera di dekat mimbar. Pelaku mencoba menembak lagi, tetapi gerakannya dihentikan oleh anggota Tjakrabirawa yang sigap menerjang. Dalam waktu lima detik, pelaku sudah ditelungkupkan dan pistol jenis revolver diamankan.
Presiden yang baru menyadari ancaman maut itu segera dikawal masuk ke dalam istana. Beberapa jemaah terluka karena terinjak saat berhamburan menyelamatkan diri. Beruntung, tidak ada korban jiwa selain pelaku yang mengalami luka parah setelah diamankan massa sebelum polisi militer mengambil alih.
Identitas Pelaku: Mantan Santri yang Tergoda Radikalisme
Pelaku bernama Abdul Basith (27 tahun), berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia adalah lulusan sebuah pesantren tradisional dan sempat bekerja sebagai pegawai rendahan di pelabuhan Tanjung Priok. Dari surat wasiat yang ditemukan di kosnya, Basith mengaku kecewa dengan kebijakan ekonomi pemerintah yang dianggapnya pro-kapitalis dan meninggalkan rakyat miskin.
Pistol yang digunakan adalah jenis "Colt Detective Special" yang dibelinya dari seorang penadah barang bekas rampasan perang. Pelaku menyelundupkan senjata dengan menyembunyikannya di balik sarung yang dikenakannya. Investigasi mendalam mengungkap bahwa Basith tidak terafiliasi dengan organisasi terlarang mana pun, tetapi sering menghadiri pengajian rahasia yang menyebarkan ajakan makar.
Proses Hukum: Dari Pengadilan Militer ke Tiang Gantungan
Mengingat status korban adalah presiden, pengadilan digelar secara cepat dan tertutup. Jaksa militer menggunakan pasal makar dan percobaan pembunuhan terhadap kepala negara yang ancaman hukumannya adalah pidana mati. Selama persidangan, Basith tidak menunjukkan penyesalan. Ia bahkan menyatakan bahwa jika diberi kesempatan, ia akan mengulangi perbuatannya.
Majelis hakim yang diketuai seorang kolonel hukum menjatuhkan vonis hukuman mati dengan cara digantung. Banding ditolak karena dianggap tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Eksekusi dilakukan pada dini hari, 8 Maret 1962, di sebuah penjara militer di Jawa Tengah. Jenazahnya dimakamkan secara diam-diam tanpa nisan untuk mencegah ziarah simpatisan.
Respons Nasional dan Internasional: Kecaman dan Simpati
Berita percobaan pembunuhan ini menyebar ke seluruh dunia. Pemimpin negara-negara sahabat seperti India, Mesir, dan Uni Soviet mengirimkan telegram ucapan syukur atas selamatnya presiden. Sementara itu, di dalam negeri, terjadi gelombang solidaritas massif. Organisasi massa dan partai politik menggelar demonstrasi mengecam tindakan pengecut tersebut.
Namun di sisi lain, oposisi menggunakan momen ini untuk mengkritik lemahnya sistem keamanan istana. Media asing menyoroti betapa mudahnya seorang warga sipil bersenjata bisa masuk ke jantung kekuasaan Indonesia.
Dampak Jangka Panjang: Lahirnya Protokol Keamanan Modern
Insiden Iduladha itu menjadi titik balik radikal dalam sejarah pengamanan kepala negara. Setelah evaluasi menyeluruh, pemerintah menerapkan aturan baru yang sangat ketat: setiap tamu acara kenegaraan wajib melewati metal detector, seluruh personel pengamanan istana harus lulus uji psikologi dan loyalitas, serta pembentukan unit intelijen khusus untuk mengantisipasi ancaman lone wolf.
Selain itu, pemerintah juga meningkatkan program pembangunan ekonomi untuk mengurangi kesenjangan yang dianggap memicu radikalisme. Proyek-proyek padat karya digalakkan, dan dialog kebangsaan antara pemerintah dan ulama diperintensifkan untuk menangkal ideologi sesat.
Hingga kini, insiden 10 Zulhijah 1381 H dikenang sebagai pelajaran mahal tentang pentingnya keseimbangan antara keterbukaan seorang pemimpin dan keamanan absolut. Sebuah pagi Iduladha yang hampir menjadi duka abadi bagi bangsa.
Comments (0)