Destry Damayanti: Pasar Tak Perlu Panik Meski Perry Mundur

Berdasarkan data Bank Indonesia per 12 Juni 2024, cadangan devisa nasional berada pada posisi USD 142,3 miliar, setara 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini jauh di a...

Destry Damayanti: Pasar Tak Perlu Panik Meski Perry Mundur

Berdasarkan data Bank Indonesia per 12 Juni 2024, cadangan devisa nasional berada pada posisi USD 142,3 miliar, setara 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Pada saat yang sama, inflasi inti bulan Mei tercatat 3,05% year-on-year, masih dalam sasaran BI 2,5±1%. Angka-angka fundamental ini menjadi latar penting ketika kabar mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengejutkan pasar pada sesi perdagangan awal pekan ini.

Di tengah riak spekulasi, Pelaksana Tugas Gubernur BI Destry Damayanti segera tampil untuk meredakan potensi kepanikan. Ia menegaskan bahwa kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan akan tetap terjaga karena BI beroperasi dalam kerangka kelembagaan yang kuat. “Pelaku pasar tidak perlu merespons pergantian kepemimpinan ini secara berlebihan. Segala keputusan strategis tetap mengacu pada data dan proyeksi makro, bukan pada figur personal,” demikian pesan inti yang disampaikannya dalam konferensi pers darurat.

Stabilitas di Tengah Transisi

Di satu sisi, dunia keuangan mengenal well‑established gubernur bank sentral sebagai jangkar psikologis. Perry Warjiyo, yang menjabat sejak 2018, telah membentuk ekspektasi pasar melalui pola komunikasi yang terukur. Kepergiannya secara mendadak berpotensi mengganggu persepsi kontinuitas, terutama di mata investor asing yang memegang 15,2% dari total obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan. Ketidakpastian transisi bisa mendorong tekanan jual yang memicu capital outflow dan pelemahan rupiah.

Di sisi lain, Indonesia telah melalui beberapa siklus suksesi pimpinan BI tanpa menimbulkan disrupsi permanen. Ketika Agus Martowardojo digantikan Perry Warjiyo pada 2018, rupiah sempat terdepresiasi namun kembali menguat setelah BI menaikkan suku bunga secara agresif. Saat ini, BI telah membangun reputasi sebagai institusi yang independen dan kredibel. Destry Damayanti sendiri adalah deputi gubernur senior yang memahami seluk-beluk kebijakan moneter dan telah terlibat dalam setiap keputusan penting dalam enam tahun terakhir. Dengan kata lain, haluan kebijakan tidak akan berubah secara drastis.

Reaksi Pasar dan Sentimen Jangka Pendek

Pagi ini, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp16.320 per dolar AS, melemah 0,8% dari penutupan sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 12 basis poin ke level 6,95%, menandakan adanya aksi jual terbatas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,1% pada sesi pertama. Meski demikian, volume transaksi belum menunjukkan kepanikan masif. Pasar tampak mencerna pernyataan Pjs Gubernur BI sambil menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai siapa yang akan ditunjuk sebagai gubernur definitif.

Sentimen terhadap aset Indonesia sangat dipengaruhi persepsi stabilitas politik dan konsistensi kebijakan. Dalam beberapa hari ke depan, fokus pelaku pasar akan tertuju pada rapat dewan gubernur BI yang dijadwalkan pekan depan untuk menetapkan BI Rate. Jika BI mempertahankan suku bunga acuan di 6,00%, sinyal bahwa tidak ada perubahan prematur akan memberikan ketenangan. Pasar juga akan mengamati pernyataan Dewan Perwakilan Rakyat terkait proses pemilihan gubernur baru, karena intervensi politik dapat memperburuk sentimen.

Pro dan Kontra: Risiko versus Kepercayaan Fundamental

Pro: Mundurnya Perry Warjiyo bisa dilihat sebagai wajar setelah ia memimpin BI melalui periode pandemi dan pemulihan. Masuknya wajah baru berpotensi membawa semangat reformasi, terutama dalam mempercepat digitalisasi sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan. Sejumlah analis menilai bahwa pasar telah cukup matang untuk memisahkan antara isu personal dan fundamental institusi. Rasio kecukupan cadangan devisa yang tinggi dan posisi neto foreign exchange yang positif membuat BI mampu melakukan intervensi valas dalam jumlah besar bila diperlukan.

Kontra: Meski BI memiliki reputasi baik, perubahan mendadak di masa ketidakpastian global — seperti ancaman resesi di beberapa negara maju dan tensi geopolitik — menambah beban risiko. Investor asing mungkin memilih wait and see, mengurangi aliran modal masuk hingga proses transisi selesai. Apalagi, rupiah masih rentan terhadap kenaikan imbal hasil AS. Ketiadaan sosok gubernur definitif dapat membuat BI kurang agresif dalam merespons gejolak eksternal, meskipun Pjs Gubernur berusaha menepis kekhawatiran tersebut.

Proyeksi dan Langkah Selanjutnya

Dalam proyeksi ke depan, BI diprediksi tetap mempertahankan stance kebijakan yang stabil. Dengan inflasi inti yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi kuartal II diperkirakan mencapai 5,05% year-on-year, ruang untuk menaikkan atau menurunkan suku bunga tergolong sempit. Tim riset Beritadua memperkirakan BI Rate akan ditahan di 6,00% hingga akhir tahun, sementara fokus beralih ke kebijakan makroprudensial longgar untuk mendorong kredit perbankan.

Destry Damayanti dalam kapasitasnya sebagai Pejabat Sementara Gubernur memastikan seluruh rapat dan koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) berjalan sesuai jadwal. “Kami memiliki protokol transisi yang jelas. Tidak ada kekosongan kebijakan, tidak ada gangguan dalam pengelolaan moneter dan sistem pembayaran,” ucapnya. Pernyataan ini diharapkan menjadi jangkar psikologis bagi pasar selama masa transisi yang diperkirakan berlangsung beberapa minggu.

Dengan landasan data makro yang solid, kebisingan politik di sekitar mundurnya Gubernur BI semestinya tidak mengubah arah fundamental. Pasar memang sebaiknya tetap waspada, namun panik berlebihan justru menciptakan risiko yang seharusnya tidak perlu ada. Pelajaran dari krisis-krisis sebelumnya: kepercayaan adalah aset paling berharga. Dan mempertahankannya adalah tugas bersama, bukan hanya tugas satu orang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User