Pocong dan Krisis: Ketakutan Kolektif di Masa Ekonomi Sulit
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat ke 4,9% year-on-year, turun dari 5,3% pada triwulan sebelumnya. Sementara itu, indeks kepercayaan ...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat ke 4,9% year-on-year, turun dari 5,3% pada triwulan sebelumnya. Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen versi Bank Indonesia merosot ke level 105,8 dari 112,4 pada awal tahun, merefleksikan sentimen pasar yang melemah. Di tengah angka-angka ini, sebuah fenomena kultural kembali mencuat: kemunculan teror hantu pocong, yang secara historis selalu menyertai masa-masa sulit ekonomi nasional.
Fenomena ini bukan sekadar dongeng pedesaan. Sejarah mencatat bahwa lonjakan laporan penampakan pocong sering beriringan dengan tekanan moneter. Pada krisis finansial 1998, saat inflasi mencapai 75% dan kontraksi PDB menyentuh 13,1%, cerita-cerita horor menyebar dari mulut ke mulut, menciptakan ketakutan massal yang nyaris paralel dengan kepanikan di lantai bursa. Kini, dengan tekanan inflasi yang meskipun lebih terkendali di 4,2% namun dibarengi perlambatan penyerapan tenaga kerja—di mana jumlah pengangguran terbuka bertambah 320 ribu orang dalam setahun terakhir—isu supernatural kembali menemukan lahan subur.
Korelasi antara Indikator Ekonomi dan Lonjakan Mitos
Di satu sisi, penurunan fundamental ekonomi seperti rasio utang rumah tangga terhadap PDB yang naik menjadi 16,8% dari 15,9% year-on-year, serta capital outflow yang menyebabkan IHSG terkoreksi 7,3% sepanjang semester pertama, menciptakan ketidakpastian di kalangan masyarakat. Ketidakpastian ini, menurut psikolog ekonomi, memicu respons irasional: orang cenderung mengatributkan tekanan hidup pada kekuatan di luar kendali manusia, seperti makhluk gaib. Di sisi lain, kemunculan narasi pocong juga bisa dibaca sebagai mekanisme pelampiasan kolektif—sebuah cara untuk mengekspresikan kecemasan terhadap ketidakstabilan pendapatan dan kehilangan pekerjaan tanpa harus mengkonfrontasi realitas politik yang keras.
Kritikus argumen ini menunjukkan bahwa tidak ada kausalitas langsung antara likuiditas pasar dan hantu. Namun, data statistik menunjukkan frekuensi cerita hantu di media lokal meningkat 38% berdasarkan pemindaian kata kunci pada platform berita daring saat indeks kepercayaan konsumen berada di bawah ambang 100. Ini menunjukkan bahwa valuasi kepercayaan publik terhadap masa depan ekonomi terhubung erat dengan pelarian ke narasi supernatural. Tidak ada satu pun ekonom yang akan mencantumkan "pocong" dalam model ekonometrik, namun sebagai fenomena sosial, ia adalah indikator tekanan mental masyarakat yang acapkali luput dari laporan resmi.
Dampak Sosial dan Sirkulasi Rumor
Secara portofolio, kerugian tidak hanya terjadi pada investor. Ketakutan akan pocong di desa-desa yang bergantung pada pariwisata dan pertanian ini menciptakan gangguan nyata. Pariwisata lokal yang biasanya menopang pendapatan daerah dengan rasio kontribusi 2,5% terhadap PAD, kini tergerus karena wisatawan menghindari lokasi yang dikabarkan "angker". Hal ini berkelindan dengan penurunan nilai tukar petani yang pada Juli lalu tercatat 1,8% lebih rendah year-on-year, mempersempit likuiditas rumah tangga pedesaan. Rumor tentang pocong bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi kebisingan yang mengganggu aktivitas produktif di tengah sempitnya akses pembiayaan mikro.
Namun, fenomena ini juga membuka wacana tentang ketangguhan budaya. Bagi sebagian antropolog, pocong adalah simbol yang menghidupkan solidaritas gotong royong ketika negara dirasa absen. Dalam beberapa kasus, gosip tentang pocong memobilisasi warga untuk patroli malam dan memperkuat jaringan sosial, sebuah aset tak berwujud yang bisa menjadi fondasi pemulihan ekonomi berbasis komunitas. Jadi, alih-alih hanya melihatnya sebagai irasionalitas, kita bisa mengkalkulasi "nilai" modal sosial ini yang sulit diukur oleh indikator konvensional seperti indeks pembangunan manusia atau rasio gini semata.
Proyeksi dan Siklus Sejarah yang Pantang Dicemooh
Bercermin pada siklus sebelumnya—krisis 1998, 2008, dan pandemi 2020—sentimen pocong kerap menjadi sinyal bahwa titik nadir tekanan ekonomi dan psikologis sudah dekat. Jika proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan berkisar antara 4,8% hingga 5,2%, dengan ekspektasi inflasi terjaga, ada kemungkinan narasi horor ini mereda seiring stabilnya indeks keyakinan konsumen. Namun, jika terjadi shock eksternal seperti gejolak harga energi yang memicu inflasi dua digit, bukan tidak mungkin fenomena ini akan berevolusi bentuk, mengikuti pola yang sama: masyarakat yang terluka secara ekonomi mencari pelipur lara dalam kepercayaan tradisional.
Nasihat yang muncul dari kearifan sejarah ini sederhana: jangan mengabaikan "isu tak masuk akal" yang muncul di tengah masyarakat. Meskipun pelaku pasar mungkin lebih peduli pada pergerakan basis poin suku bunga acuan, denyut nadi sosial yang ditangkap dari obrolan warung kopi tentang pocong adalah cermin tekanan yang lebih dalam. Tanpa intervensi kebijakan yang menargetkan stabilitas harga, perluasan lapangan kerja, dan jaring pengaman sosial yang kuat, ketakutan akan terus mencari bentuk—entah itu dalam wujud pocong ataupun volatilitas politik yang sesungguhnya. Dan itulah biaya ekonomi tertinggi yang tercatat bukan pada neraca perusahaan, melainkan dalam diam-diam jiwa jutaan warga.
Comments (0)