DPR Ungkap Alasan di Balik Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo

Pengunduran Diri yang MengejutkanJakarta – Kabar mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo akhirnya menemui titik terang. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Komisi XI yang membidangi k...

DPR Ungkap Alasan di Balik Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo

Pengunduran Diri yang Mengejutkan

Jakarta – Kabar mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo akhirnya menemui titik terang. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui Komisi XI yang membidangi keuangan dan perbankan menggelar rapat konsultasi tertutup dengan Menteri Keuangan dan jajaran BI. Pertemuan yang berlangsung pada Kamis (11/6/2026) itu mengonfirmasi bahwa Perry Warjiyo telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan yang diembannya sejak 2018. Langkah ini mengejutkan banyak pihak, mengingat ia baru dilantik untuk periode kedua pada 2023 dan masa jabatannya semestinya berlangsung hingga 2028.

Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, dalam keterangan pers usai rapat menyatakan DPR menghormati keputusan pribadi Gubernur BI tersebut. “Kami menerima surat pengunduran diri Pak Perry. Beliau menyampaikan alasan kesehatan dan keinginan untuk memberikan ruang regenerasi di tubuh bank sentral,” ujarnya. Meski demikian, sejumlah sumber di parlemen menyebut adanya dinamika internal yang turut mempengaruhi langkah tersebut, termasuk perbedaan pandangan dengan pemerintah terkait arah kebijakan moneter di tengah tekanan inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Alasan di Balik Keputusan

Perry Warjiyo dikenal sebagai arsitek kebijakan “pro-stability” yang selama pandemi COVID-19 berhasil menjaga inflasi tetap rendah melalui sinergi dengan pemerintah lewat burden sharing. Namun, memasuki 2026, sejumlah tekanan muncul. Inflasi global akibat harga pangan dan energi, serta normalisasi suku bunga acuan Federal Reserve, memaksa BI menaikkan BI Rate secara agresif menjadi 7,25% pada awal tahun. Kebijakan ini dikritik oleh sejumlah kalangan di pemerintahan karena dinilai memperlambat pertumbuhan ekonomi yang baru pulih. Dalam rapat dengar pendapat, Perry dikabarkan bersilang pendapat dengan Menteri Keuangan soal pelonggaran moneter untuk mendorong konsumsi. Kondisi ini disebut-sebut mempercepat keinginannya untuk mundur.

Selain faktor eksternal, beban kerja yang tinggi selama lebih dari tujuh tahun memimpin bank sentral dilaporkan berdampak pada kesehatannya. Orang dekat Perry menyebutkan ia mengalami kelelahan akut dan tekanan darah tinggi yang memerlukan perawatan intensif. “Beliau ingin fokus memulihkan kondisi fisiknya. Ini keputusan berat, tetapi manusiawi,” kata seorang koleganya yang enggan disebutkan namanya.

Kriteria Calon Pengganti Versi DPR

Menanggapi kekosongan kursi pimpinan BI, Komisi XI DPR langsung menyusun kriteria calon pengganti yang akan diajukan kepada Presiden. Misbakhun menekankan bahwa sosok ideal harus memenuhi tiga pilar utama: independensi, kompetensi moneter, dan pengalaman internasional. “Gubernur BI bukan hanya penjaga rupiah, tetapi juga wajah Indonesia di forum G20 dan ASEAN+3. Kami butuh figur yang paham teknikal sekaligus diplomatis,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa calon harus memiliki rekam jejak integritas tanpa cela dan mampu membangun komunikasi yang konstruktif dengan DPR.

DPR tidak menyebut nama spesifik, namun beredar sejumlah nama potensial. Mirza Adityaswara yang kini menjabat Deputi Gubernur Senior BI dianggap sebagai kandidat kuat karena pengalaman panjangnya di bidang moneter dan stabilitas sistem keuangan. Nama lainnya adalah Aida Budiman, Deputi Gubernur BI yang membidangi kebijakan moneter dan dikenal dekat dengan kalangan pelaku pasar. Dari luar BI, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri juga disebut-sebut memiliki kapasitas, meskipun peluangnya lebih kecil mengingat preferensi DPR terhadap kader internal bank sentral. Proses seleksi diharapkan rampung dalam waktu 45 hari kerja sesuai amanat undang-undang.

Dampak ke Pasar dan Proyeksi

Kabar mundurnya Perry Warjiyo sempat memicu gejolak di pasar keuangan. Pada sesi perdagangan Jumat pagi, nilai tukar rupiah tertekan ke level Rp 16.200 per dolar AS, melemah 0,8% dibanding penutupan sebelumnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi hingga 1,5% karena investor asing melakukan aksi jual bersih di pasar modal. Namun, setelah pernyataan resmi DPR yang menegaskan transisi akan berjalan lancar dan BI tetap beroperasi secara normal di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas, pasar mulai stabil. Pada sesi akhir, rupiah ditutup di Rp 16.080 dan IHSG memangkas penurunan menjadi 0,6%.

Analis memperkirakan ketidakpastian masih akan membayangi hingga gubernur baru terpilih. “Pasar menanti kejelasan arah kebijakan. Kalau penggantinya dianggap konsisten dengan stabilitas, sentimen akan cepat pulih,” ujar seorang analis makroekonomi di Jakarta. Sementara itu, DPR menjadwalkan uji kepatutan dan kelayakan terhadap calon yang diusulkan Presiden pada akhir Juli 2026. Semua pihak berharap transisi kepemimpinan di bank sentral ini dapat berlangsung mulus tanpa mengganggu upaya pemulihan ekonomi nasional yang masih rapuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User