Kontroversi Hari Jadi Jakarta: Apakah 22 Juni Keliru?
Setiap tanggal 22 Juni, warga Ibukota Jakarta merayakan hari jadinya. Namun, di balik perayaan itu, terdapat misteri sejarah yang mengganjal: benarkah tanggal tersebut merupakan momen kelahiran kota i...
Setiap tanggal 22 Juni, warga Ibukota Jakarta merayakan hari jadinya. Namun, di balik perayaan itu, terdapat misteri sejarah yang mengganjal: benarkah tanggal tersebut merupakan momen kelahiran kota ini? Sejumlah penelitian terkini justru mempertanyakan legitimasi penanggalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Akar Sejarah yang Diterima Umum
Narasi populer yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa pada 22 Juni 1527, pasukan gabungan Cirebon-Demak di bawah komando Fathillah berhasil merebut Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Kerajaan Sunda yang bersekutu dengan Portugis. Peristiwa ini kemudian dijadikan titik awal perjalanan kota yang kini bernama Jakarta. Nama Sunda Kelapa pun diganti menjadi Jayakarta, yang berarti 'kemenangan'. Penetapan tanggal ini sebagai hari jadi pertama kali dideklarasikan oleh Wali Kota Sudiro pada tahun 1956, berdasarkan kajian sejarawan kala itu.
Benih Ketidakpastian dari Catatan Sejarah
Di sisi lain, ketersediaan sumber primer menjadi permasalahan fundamental. Catatan sejarah yang paling sering dikutip, seperti Carita Parahyangan atau laporan perjalanan pelaut Eropa, tidak secara eksplisit mencantumkan tanggal tersebut. Beberapa sejarawan kontemporer menemukan inkonsistensi kronologi antara penanggalan Masehi dan kalender Hijriah yang digunakan dalam naskah lokal. Misalnya, peristiwa penaklukan yang diperkirakan terjadi pada tahun 933 H bisa saja jatuh pada periode yang berbeda jika dikonversi.
Parahnya, tidak ada peninggalan arkeologis atau prasasti yang secara langsung mendukung klaim hari jadi ini. Sebagian ahli berpendapat bahwa pemilihan 22 Juni lebih didasarkan pada pertimbangan politis untuk menciptakan simbol persatuan di era pascakemerdekaan.
Suara Alternatif dari Kalangan Akademis
Penelitian multidisiplin yang dilakukan oleh tim dari Universitas Indonesia pada awal 2026 lalu menguak kemungkinan lain. Dengan menganalisis pola angin muson dan catatan pelayaran kapal dagang abad ke-16, mereka mendapati bahwa armada Demak-Cirebon kemungkinan besar baru tiba di perairan Sunda Kelapa pada bulan Juli atau Agustus. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa pendirian Jayakarta terjadi lebih lambat dari yang diyakini publik.
Profesor R. Madjid, seorang ahli filologi yang terlibat dalam riset tersebut, menyatakan, "Kita harus berani merekonstruksi ulang sejarah. Tanggal yang selama ini dirayakan mungkin bukan momen kelahiran administratif Jakarta, melainkan akhir dari seluruh operasi militer di pesisir."
Antara Perayaan dan Pelurusan Sejarah
Kontroversi ini memunculkan dilema sosial. Bagi masyarakat awam, tanggal 22 Juni telah terlanjur lekat sebagai bagian dari identitas kota. Berbagai program tahunan seperti Jakarta Fair dan diskon pusat perbelanjaan diselaraskan dengan momen ini. Di sisi lain, upaya pelurusan sejarah justru dianggap penting oleh komunitas akademik agar generasi mendatang tidak mewarisi pemahaman yang keliru.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri berhati-hati menyikapi isu ini. Gubernur sebelumnya, Anies Baswedan, pernah melontarkan wacana untuk mengkaji ulang tonggak sejarah, namun tidak dilanjutkan. Kini, di bawah kepemimpinan baru, belum ada langkah konkret untuk merevisi penetapan yang telah berusia hampir 70 tahun itu.
Menatap Masa Lalu di Tengah Kemeriahan
Terlepas dari perdebatan akademis yang bergulir, perayaan kota Jakarta tetap berjalan. Pertanyaan mengenai validitas tanggal tersebut tidak lantas mengurangi semangat warga. Namun, transparansi dan keterbukaan data sejarah menjadi kunci agar setiap generasi tidak hanya mewarisi kemeriahan, tetapi juga kebenaran fakta. Jakarta adalah kota yang dinamis; tidak tertutup kemungkinan identitas resminya kelak akan disesuaikan dengan temuan-temuan baru.
Comments (0)