Merger Ditolak, Mitratel Rampungkan Buyback Saham, Ini Rinciannya
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) mengumumkan penyelesaian program pembelian kembali (buyback) sahamnya pada Selasa (24/6), menandai langkah strategis pascapenolakan rencana merger yang sebelumny...
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) mengumumkan penyelesaian program pembelian kembali (buyback) sahamnya pada Selasa (24/6), menandai langkah strategis pascapenolakan rencana merger yang sebelumnya diajukan manajemen. Dalam aksi ini, emiten menara telekomunikasi grup Telkom tersebut menghabiskan dana sekitar Rp1,82 triliun untuk membeli kembali 1,52 miliar lembar saham di pasar reguler dan negosiasi.
Pembelian dilakukan dalam beberapa tahap selama dua bulan terakhir dengan rentang harga Rp1.180–Rp1.260 per saham. Jumlah saham yang dibeli setara dengan sekitar 1,8 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Dana buyback sepenuhnya berasal dari kas internal perusahaan yang tercatat likuid, tanpa mengganggu rasio utang terhadap ekuitas.
Merger Tak Direstui, Buyback Jadi Alternatif
Rencana merger MTEL dengan salah satu perusahaan menara swasta—yang namanya dirahasiakan karena pertimbangan kerahasiaan—telah dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Mei lalu. Proposal tersebut memerlukan persetujuan 75 persen suara pemegang saham independen, namun hanya memperoleh dukungan 68,3 persen. Alasan penolakan yang disampaikan sejumlah pemegang saham minoritas mencakup kekhawatiran akan potensi dilusi, sinergi yang dianggap belum jelas, serta perbedaan kultur operasional.
Pasca keputusan tersebut, manajemen MTEL bersama dewan komisaris memutuskan untuk mengalihkan sebagian kelebihan kas ke program buyback. “Kami memandang harga saham MTEL saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya. Buyback menjadi cara paling efisien untuk memberikan imbal hasil langsung kepada pemegang saham sekaligus mendukung stabilitas harga saham,” ujar Direktur Utama MTEL, Theodorus A. Hartoko, dalam keterangan tertulis.
Rincian Pelaksanaan Buyback
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), buyback dilakukan melalui dua mekanisme: pembelian di pasar reguler Bursa Efek Indonesia dan transaksi di luar bursa melalui penawaran terbatas (private placement buyback) kepada pemegang saham yang ingin menjual. Rincian alokasi dana adalah sebagai berikut:
Pasar Reguler: sebanyak 920 juta lembar saham dengan total nilai Rp1,10 triliun, rata-rata harga Rp1.198 per saham.
Di Luar Bursa: sebanyak 600 juta lembar saham dengan total nilai Rp720 miliar, harga Rp1.200 per saham melalui negosiasi dengan pemegang saham lama.
Total saham yang dibeli kembali akan disimpan sebagai saham treasuri. Langkah ini mengurangi jumlah saham beredar di publik dan berpotensi meningkatkan laba per saham (EPS) perseroan. Dengan asumsi laba bersih tahun berjalan Rp2,1 triliun, EPS MTEL setelah buyback diproyeksikan naik dari Rp25,2 menjadi sekitar Rp25,7, meskipun kenaikan ini hanya kecil.
Dampak Terhadap Harga Saham dan Likuiditas
Sejak pengumuman buyback pertama kali pada April lalu, saham MTEL mengalami pergerakan positif terbatas. Harga yang sempat menyentuh level Rp1.140 per saham pada awal April berhasil rebound ke kisaran Rp1.220–Rp1.260 selama periode buyback. Namun, beberapa analis mengingatkan bahwa buyback tidak dapat menopang harga dalam jangka panjang jika kinerja fundamental tidak membaik.
“Buyback ini lebih bersifat simbolis dan memberikan sinyal bahwa manajemen meyakini saham sedang murah. Tetapi tanpa katalis baru seperti akuisisi menara tambahan atau peningkatan pendapatan dari penyewaan, dampaknya akan terbatas,” kata Dian Anggraeni, analis dari BNI Sekuritas. Ia mencatat, volume perdagangan harian MTEL sempat menurun sekitar 15 persen setelah buyback, karena berkurangnya jumlah saham yang dapat diperdagangkan secara bebas.
Di sisi lain, kebijakan buyback ini diapresiasi oleh beberapa investor institusi yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk disiplin alokasi modal. “Daripada uang mengendap dalam bentuk deposito dengan bunga rendah, lebih baik dibelikan saham sendiri yang secara fundamental undervalue,” ujar salah satu manajer investasi yang enggan disebut namanya.
Kinerja Fundamental dan Prospek ke Depan
MTEL membukukan pendapatan Rp8,7 triliun pada tahun buku 2024, tumbuh 11,6 persen year-on-year, dengan laba bersih Rp2,1 triliun. Perusahaan memiliki lebih dari 37.000 menara telekomunikasi dengan tingkat okupansi (tenancy ratio) 1,52x. Arus kas operasi yang kuat dan posisi kas bersih sekitar Rp4,5 triliun sebelum buyback memberikan ruang yang leluasa untuk aksi korporasi ini.
Sayangnya, prospek pertumbuhan di sektor menara telekomunikasi tengah melambat seiring dengan hampir selesainya pembangunan infrastruktur 5G tahap awal oleh operator seluler. Tingkat sewa baru mulai turun dan persaingan dengan menara independen lain semakin ketat. Dalam konteks inilah upaya merger sebelumnya menjadi relevan: konsolidasi diyakini dapat menciptakan skala ekonomi dan efisiensi biaya. Namun, dengan gagalnya rencana tersebut, MTEL harus mencari jalur pertumbuhan lain.
Manajemen mengindikasikan akan fokus pada ekspansi organik di luar Pulau Jawa, khususnya di kawasan Indonesia Timur, serta meningkatkan rasio kolokasi dari operator yang sudah ada. Selain itu, perusahaan masih membuka kemungkinan akuisisi kecil-kecilan (bolt-on acquisitions) untuk menambah portofolio menara, meski tidak dalam skala merger besar.
Buyback Selanjutnya Masih Mungkin
Dalam pernyataan resminya, Direktur Utama MTEL menyebutkan bahwa perseroan tetap memiliki mandat dari RUPS untuk melakukan buyback hingga 10 persen dari modal disetor, dengan batas waktu hingga akhir tahun 2025. Artinya, masih tersedia ruang sekitar 8,2 persen lagi untuk pembelian tambahan. Namun, keputusan akan bergantung pada kondisi pasar dan ketersediaan dana bebas.
“Kami akan terus memantau pergerakan harga saham dan mempertimbangkan buyback lanjutan jika memang diperlukan. Saat ini prioritas kami adalah menjaga likuiditas yang sehat untuk mendanai belanja modal dan potensi aksi korporasi,” tandasnya.
Dengan selesainya buyback ini, total saham MTEL yang beredar di publik kini berkurang menjadi sekitar 82,7 miliar lembar dari sebelumnya 84,22 miliar lembar. Kepemilikan saham oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebagai induk usaha tetap tidak berubah, yakni 71,2 persen. Sementara itu, porsi investor publik meningkat tipis dalam komposisi karena berkurangnya saham treasuri, memberikan bobot suara yang sedikit lebih besar bagi minoritas dalam RUPS mendatang.
Reaksi investor asing juga terpantau positif. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, kepemilikan asing di MTEL naik 0,3 persen menjadi 12,8 persen dalam sepekan terakhir setelah penyelesaian buyback, menandakan adanya minat masuk dari institusi global yang melihat perbaikan tata kelola dan potensi kenaikan EPS.
Comments (0)