Pramono Anung: Profil dan Kinerja Gubernur DKI Jakarta
Pramono Anung: Profil dan Kinerja Gubernur DKI Jakarta
Profil Singkat
Pramono Anung Wibowo lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 11 Juni 1963. Ia menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Pertambangan, kemudian meraih gelar magister dari Universitas Gadjah Mada dan doktor dari Universitas Padjadjaran. Sejak muda, Pramono telah aktif di dunia politik sebagai kader PDI Perjuangan. Namanya mulai dikenal luas ketika menduduki berbagai posisi strategis di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan pemerintahan pusat.
Sosoknya dikenal sebagai politikus pragmatis dengan gaya komunikasi yang cair dan merakyat. Pramono memiliki hobi bermain musik dan kerap tampil dengan gitarnya, sebuah citra yang membuatnya mudah diterima lintas kalangan. Ia menikah dengan Endang Nugrahani dan dikaruniai dua anak.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier politik Pramono Anung dimulai sejak era reformasi. Ia menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI selama tiga periode sejak 1999 hingga 2015. Selama di parlemen, ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2009-2014. Pramono juga pernah menduduki posisi Sekretaris Jenderal PDI-P dan menjadi salah satu orang kepercayaan Megawati Soekarnoputri.
Puncak kariernya di eksekutif dimulai pada 2015 ketika Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Sekretaris Kabinet. Selama hampir sembilan tahun, Pramono menjadi "pintu terakhir" sebelum dokumen dan keputusan strategis sampai ke meja presiden. Posisi ini memberinya pemahaman mendalam mengenai birokrasi dan kebijakan nasional. Pada Pilkada DKI Jakarta 2024, Pramono maju sebagai calon gubernur berpasangan dengan Rano Karno, aktor dan mantan Gubernur Banten. Pasangan ini memenangkan kontestasi dan resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada Februari 2025.
Kinerja dan Program Unggulan
Setahun pertama Pramono menjabat, sejumlah program unggulan mulai menunjukkan progres. Program Jakarta Terpadu menjadi andalannya, berfokus pada integrasi transportasi publik, penanggulangan banjir, dan penyediaan hunian terjangkau. Di sektor transportasi, Pramono mempercepat integrasi JakLingko dan melanjutkan pembangunan MRT Fase 2A yang ditargetkan beroperasi pada 2027.
Dalam penanganan banjir, Pramono memperkuat sistem polder dan mempercepat normalisasi sungai yang sempat tersendat di era sebelumnya. Ia juga menggulirkan program Kampung Susun Jakarta sebagai solusi hunian vertikal bagi warga bantaran kali tanpa harus menggusur mereka ke luar kota. Di bidang ekonomi, stimulus untuk UMKM melalui Kredit Jakarta meluncur pada triwulan kedua 2025, dengan bunga rendah dan proses pengajuan digital.
Isu polusi udara juga menjadi perhatian. Pramono memperketat pengawasan uji emisi, menambah armada bus listrik TransJakarta, dan memperluas ruang terbuka hijau di enam wilayah kota.
Tantangan dan Harapan
Status Jakarta yang bertransisi dari ibu kota negara menjadi pusat bisnis global pasca-pemindahan ibu kota ke
Comments (0)