Perry Warjiyo Mundur Sukarela, Gubernur BI Tinggalkan Suku Bunga Akhir Juli
Jakarta – Bank Indonesia (BI) resmi mengumumkan pengunduran diri Gubernur Perry Warjiyo yang akan berlaku efektif pada 25 Juli 2026. Keputusan mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Deputi Gubern...
Jakarta – Bank Indonesia (BI) resmi mengumumkan pengunduran diri Gubernur Perry Warjiyo yang akan berlaku efektif pada 25 Juli 2026. Keputusan mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti dalam konferensi pers singkat di Gedung BI, Selasa pagi. Destry menegaskan bahwa pengunduran diri tersebut bersifat sukarela dan murni atas pertimbangan pribadi, bukan karena tekanan politik ataupun kinerja bank sentral.
"Saudara Perry Warjiyo telah menyampaikan surat pengunduran dirinya secara resmi kepada Presiden melalui Dewan Gubernur. Tidak ada paksaan, semua karena alasan keluarga dan kesehatan yang membutuhkan perhatian penuh," ujar Destry dengan nada terukur. Langkah ini mengakhiri lebih dari tiga dekade pengabdian Warjiyo di institusi yang telah membesarkan namanya itu, tepat sejak bergabung sebagai staf peneliti ekonomi pada 1984 silam.
Karier Moneter di Puncak Ketidakpastian
Warjiyo memimpin BI sejak 2018, menggantikan Agus Martowardojo, dan masa jabatannya yang kedua seharusnya baru berakhir pada Mei 2028. Di bawah komandonya, bank sentral menghadapi serangkaian badai ekonomi: pandemi COVID-19 yang memaksa suku bunga ditekan ke level terendah sepanjang sejarah, pelarian modal asing massal, hingga gejolak inflasi global pasca-pandemi yang memicu kenaikan suku bunga paling agresif dalam dua dekade. BI tercatat menaikkan BI7DRR secara akumulatif 275 basis poin sejak pertengahan 2022 hingga menyentuh 6,50% pada akhir 2025, sebelum kembali dipangkas bertahap menjadi 5,75% pada pertengahan 2026 seiring redanya tekanan harga.
Meski demikian, kebijakan Warjiyo kerap menuai kritik dari kalangan pengusaha dan politisi yang menganggap normalisasi suku bunga terlalu lambat di masa pemulihan, sementara stabilitas rupiah tetap rentan. Di sisi lain, ia dipuji atas langkah-langkah inovatif seperti perluasan QRIS lintas negara, kewajiban penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam, dan berbagai instrumen pendalaman pasar keuangan. "Beliau meninggalkan fondasi sistem pembayaran digital yang tidak dimiliki banyak negara berkembang," kata ekonom senior Universitas Indonesia, Faisal Basri, saat dihubungi.
Sentimen Pasar dan Reaksi Cepat Investor
Pengumuman mundurnya Warjiyo langsung mengirim sinyal campur aduk ke lantai bursa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi 0,8% di sesi pagi, sementara obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 4 basis poin ke level 7,12% karena investor mengantisipasi potensi perubahan arah kebijakan. Namun, rupiah justru menguat tipis ke posisi Rp15.920 per dolar AS, terbantu oleh konfirmasi bahwa transisi akan berjalan mulus di bawah kepemimpinan Destry sebagai Pelaksana Tugas Gubernur hingga presiden menetapkan pengganti definitif.
Di satu sisi, pasar menghargai stabilitas yang dijanjikan oleh Dewan Gubernur bahwa keputusan suku bunga acuan masih mengikuti jadwal Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Juli. Di sisi lain, ketidakpastian mengenai siapa nakhoda baru, serta apakah pergantian ini akan membuka ruang bagi tekanan politik agar BI lebih akomodatif terhadap keinginan pemerintah menjelang Pemilu 2027, menjadi catatan tersendiri. "Investor akan sangat mencermati rekam jejak dan independensi calon pengganti. Kalau nama-nama yang muncul dekat dengan lingkaran kekuasaan, pasar obligasi bisa bereaksi negatif," ujar analis senior Bahana TCW.
Spekulasi Suksesi dan Arah Kebijakan ke Depan
Destry Damayanti sendiri otomatis menjadi Gubernur BI ad interim berdasarkan undang-undang, dan spekulasi menyebut bahwa ia adalah salah satu kandidat kuat untuk diangkat secara permanen oleh presiden dan DPR. Nama lain yang disebut termasuk Kepala Badan Kebijakan Fiskal, serta mantan Menteri Keuangan yang pernah membidangi makroekonomi. Namun, prosedur mensyaratkan pengajuan oleh Presiden dan uji kelayakan di parlemen, yang diperkirakan baru akan rampung paling cepat akhir Agustus.
Dalam pernyataan terpisah, Menteri Keuangan mengapresiasi kontribusi Warjiyo dan menyatakan bahwa koordinasi antara pemerintah dan BI tidak akan terganggu. "Fundamental ekonomi kita tetap baik: inflasi inti sudah di bawah 3%, cadangan devisa mencapai 150 miliar dolar AS, dan pertumbuhan kredit masih tumbuh dua digit," ujarnya. Meskipun demikian, tantangan eksternal seperti tensi geopolitik dan potensi resesi AS tetap mengharuskan kehati-hatian.
Pengunduran diri ini menutup babak panjang seorang teknokrat moneter yang dikenal dengan disertasinya tentang mekanisme transmisi kebijakan moneter. Apakah langkah mundurnya akan membawa BI ke era baru yang lebih fleksibel, atau justru membuka celah bagi intervensi fiskal yang berlebihan, hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, pada 25 Juli nanti, Indonesia akan menyaksikan perpisahan dengan salah satu arsitek moneternya yang paling kontroversial sekaligus dihormati.
Comments (0)