Pidato Bung Karno soal Persatuan Bergema hingga ke Pemimpin Iran

Gagasan besar tentang persatuan yang pernah disampaikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ternyata memiliki daya jangkau yang melampaui batas geografis dan zaman. Sebuah pengakuan me...

Pidato Bung Karno soal Persatuan Bergema hingga ke Pemimpin Iran

Gagasan besar tentang persatuan yang pernah disampaikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ternyata memiliki daya jangkau yang melampaui batas geografis dan zaman. Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang secara terbuka menyebut bahwa ia pernah merujuk dan mengutip pidato sang proklamator untuk menjelaskan fondasi pentingnya kohesi sosial di tengah keragaman yang ada di negaranya. Pengakuan ini tidak hanya menjadi bukti relevansi pemikiran Bung Karno di panggung global, tetapi juga menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai kiblat harmoni dalam keberagaman.

Warisan Pemikiran Bung Karno yang Melampaui Benua

Soekarno dikenal sebagai orator ulung yang mampu merangkai kata-kata menjadi kekuatan pemersatu. Dalam berbagai momentum kenegaraan, ia kerap menekankan bahwa Indonesia adalah bangsa majemuk yang disatukan bukan oleh kesamaan etnis, bahasa, atau agama, melainkan oleh cita-cita bersama dan kesadaran sejarah sebagai bangsa terjajah yang bangkit melawan kolonialisme. Pidato-pidatonya bukan hanya membakar semangat rakyat Indonesia kala itu, tetapi juga menyebar ke berbagai penjuru dunia, diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, dan dipelajari oleh para pemimpin gerakan kemerdekaan di Asia dan Afrika.

Yang membuat pemikiran Soekarno begitu awet adalah pendekatannya yang inklusif. Ia tidak pernah menempatkan satu identitas di atas identitas lainnya. Sebaliknya, ia merayakan perbedaan sebagai kekayaan yang harus dijaga bersama. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang ia hidupkan dalam setiap langkah politiknya menjadi formula yang terus dicari oleh bangsa-bangsa yang sedang bergulat dengan konflik internal berlatar identitas. Iran, sebagai negara dengan komposisi etnis dan mazhab keagamaan yang beragam, tampaknya menemukan resonansi yang kuat dalam pesan-pesan tersebut.

Mengapa Pemimpin Iran Merasa Perlu Mengutipnya

Ayatollah Khamenei bukanlah figur yang mudah memberikan pujian atau mengutip pemimpin asing secara terbuka. Sebagai pemegang otoritas tertinggi di Republik Islam Iran, setiap pernyataannya membawa bobot politik dan ideologis yang signifikan. Ketika ia memilih untuk mengangkat pidato seorang pemimpin dari Indonesia—negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia namun menganut sistem demokrasi yang berbeda dengan Teokrasi Syiah Iran—hal ini menunjukkan adanya pengakuan strategis terhadap formula kebangsaan yang ditawarkan Soekarno.

Dalam konteks internal Iran, isu persatuan di tengah keragaman agama dan ideologi bukanlah sekadar retorika. Iran memiliki populasi Sunni yang signifikan di wilayah-wilayah seperti Balochistan dan Kurdistan, serta minoritas agama lain seperti Kristen, Yahudi, dan Zoroastrian. Ketegangan antara pusat dan daerah, serta antara berbagai mazhab pemikiran Islam, menjadi tantangan nyata bagi stabilitas negara. Dengan mengutip Soekarno, Khamenei seolah ingin menyampaikan bahwa persatuan tidak harus berarti penyeragaman, dan bahwa sebuah bangsa dapat berdiri kokoh justru dengan mengakui dan mengelola perbedaan yang ada.

Pesan ini menjadi semakin relevan di tengah upaya Iran untuk memperkuat poros geopolitiknya di kawasan, di mana solidaritas internal menjadi prasyarat mutlak. Referensi terhadap tokoh dari Asia Tenggara yang berhasil membangun konsensus nasional lintas identitas memberikan legitimasi tambahan terhadap narasi yang coba dibangun oleh Teheran.

Pelajaran bagi Indonesia dan Dunia

Pengakuan dari Pemimpin Tertinggi Iran ini seharusnya menjadi cermin bagi bangsa Indonesia sendiri. Di saat pemikiran tokoh bangsa dihormati dan dirujuk di level internasional, generasi masa kini perlu bertanya: sejauh mana nilai-nilai persatuan yang diperjuangkan Bung Karno masih hidup dalam praktik keseharian kita? Tantangan polarisasi politik, menguatnya politik identitas, dan menyebarnya disinformasi yang memecah belah adalah ujian kontemporer terhadap fondasi yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa.

Lebih dari itu, apresiasi dari luar negeri ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modalitas diplomasi lunak yang luar biasa. Gagasan-gagasan besarnya tentang persatuan, toleransi, dan keadilan sosial telah menjadi produk ekspor intelektual yang mendunia. Ini adalah aset yang bisa diperkuat dalam hubungan bilateral dengan Iran maupun negara-negara lain yang memiliki tantangan serupa. Diplomasi berbasis nilai ini memiliki keunggulan karena bersifat organik dan tidak dipaksakan, lahir dari pengalaman historis yang autentik.

Dalam dunia yang semakin terkoneksi namun juga semakin rentan terhadap fragmentasi, pesan Soekarno yang bergema kembali melalui suara Khamenei adalah pengingat bahwa persatuan adalah kebutuhan universal. Ia bukan milik satu bangsa, melainkan cita-cita kemanusiaan yang terus dicari oleh setiap peradaban. Indonesia, dengan warisan kebhinekaannya, memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga dan menyebarkan nilai-nilai tersebut—bukan hanya lewat kata-kata, melainkan melalui teladan nyata dalam berbangsa dan bernegara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User