Herman Deru: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Selatan
Herman Deru: Profil dan Kinerja Gubernur Sumatera Selatan
Profil Singkat
H. Herman Deru, S.H., M.M., lahir di Desa Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, pada 17 November 1964. Ia adalah anak pertama dari tujuh bersaudara dari pasangan H. Ahmad Yani dan Hj. Rohana. Herman Deru menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Belitang sebelum merantau ke Palembang untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Kader Bangsa Palembang, kemudian melanjutkan studi dan memperoleh gelar Magister Manajemen dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Rahmaniyah Sekayu pada tahun 2012.
Herman Deru menikah dengan Hj. Febrita Lustia dan dikaruniai tiga orang anak, salah satunya, Percha Leanpuri, yang sempat menjadi anggota DPD RI sebelum wafat tahun 2021. Sebelum terjun ke dunia politik sebagai kader Partai NasDem, Herman Deru dikenal luas sebagai pengusaha sukses di bidang media, perhotelan, dan perkebunan.
Karier dan Riwayat Jabatan
Karier politik Herman Deru dimulai saat ia menjabat sebagai Bupati Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) dua periode, dari tahun 2005 hingga 2015. Selama memimpin OKU Timur, ia berhasil mengubah wajah kabupaten yang sebelumnya tertinggal menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur yang signifikan. Program “Gerakan Membangun OKU Timur” yang diusungnya mendapat apresiasi luas.
Usai masa jabatannya sebagai bupati, Herman Deru bergabung dengan Partai NasDem dan dipercaya menjadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sumatera Selatan. Pada Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan 2018, ia berpasangan dengan Mawardi Yahya dan memenangkan kontestasi dengan perolehan suara 35,96 persen, mengalahkan tiga pasangan calon lainnya. Kemenangan ini mempertemukan dua kader partai berbeda—NasDem dan Gerindra—dalam satu koalisi.
Herman Deru dilantik sebagai Gubernur Sumatera Selatan ke-13 pada 1 Oktober 2018 untuk masa jabatan 2018–2023. Pada Pemilihan Gubernur 2024, ia kembali maju berpasangan dengan Cik Ujang, anggota DPRD Sumsel dari Partai Gerindra, dan berhasil meraih kemenangan telak dengan dukungan mayoritas partai politik. Herman Deru resmi dilantik untuk periode kedua pada 20 Februari 2025, menjadi gubernur pertama yang kembali terpilih secara berturut-turut sejak era reformasi di Sumatera Selatan.
Kinerja dan Program Unggulan
Periode pertama Herman Deru (2018–2023) ditandai dengan fokus pada pembangunan infrastruktur pedesaan dan perluasan akses layanan dasar. Program “Satu Desa Satu Embung” menjadi andalan untuk mengatasi persoalan irigasi pertanian di daerah rawan kekeringan. Pada akhir 2023, lebih dari 2.100 embung telah terbangun di seluruh desa di Sumsel. Di bidang kesehatan, ia menggagas “Program Universal Health Coverage” yang mengklaim cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan mencapai 98 persen dari total penduduk.
Dalam sektor pendidikan, Herman Deru meluncurkan program beasiswa “Sumsel Cemerlang” bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Tercatat lebih dari 12.000 mahasiswa menerima manfaat pada 2023. Program “Rumah Layak Huni” juga digulirkan dengan target merenovasi dan membangun 35.000 unit rumah tidak layak huni selama lima tahun masa jabatan pertama.
Memasuki periode kedua pada 2025–2030, Herman Deru menjanjikan percepatan pembangunan berkelanjutan dengan tiga pilar utama: transformasi ekonomi hijau, integrasi transportasi antarmoda, dan penguatan tata kelola pemerintahan digital. Salah satu proyek strategis adalah pengembangan hilirisasi komoditas karet dan sawit yang melibatkan koperasi petani lokal. Ia juga melanjutkan proyek “Vila Rakyat”, yaitu pembangunan hunian modern di kawasan agrowisata untuk mendorong perekonomian desa sekaligus menarik wisatawan.
Di bidang infrastruktur, proyek Light Rail Transit (LRT) Palembang yang dimulai era sebelumnya kini diperluas rutenya hingga ke kawasan Jakabaring dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Peresmian jalur baru pada awal 2025 diharapkan meningkatkan mobilitas warga Palembang dan mengurangi kemacetan. Herman Deru juga mendorong integrasi transportasi sungai untuk memanfaatkan potensi aliran Sungai Musi.
Sistem pemerintahan digital “Sumsel Smart Province” diluncurkan awal 2026 sebagai platform terpadu pelayanan publik dari tingkat provinsi hingga desa, memungkinkan pengurusan administrasi kependudukan, perizinan usaha, hingga layanan kesehatan dalam satu aplikasi.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada sumber daya alam yang tidak terbarukan. Sumsel harus bertransformasi menjadi provinsi yang mandiri secara ekonomi, tetapi tetap menjaga akar budaya dan kearifan lokalnya,” ujar Herman Deru dalam pidato pelantikan periode kedua, 20 Februari 2025.
Tantangan dan Harapan
Sumatera Selatan menghadapi tantangan serius berupa ketimpangan pembangunan antara kawasan perkotaan Palembang dan pedesaan, khususnya di wilayah barat seperti Kabupaten Musi Rawas Utara dan Muratara yang masih tertinggal akses infrastruktur. Angka kemiskinan pada 2025 masih berada di level 10,48 persen, atau sekitar 987 ribu jiwa, meskipun turun dari 10,95 persen pada 2021. Pengangguran terbuka juga menyasar lulusan perguruan tinggi, menunjukkan belum optimalnya penyerapan tenaga kerja di sektor formal.
Persoalan lingkungan menjadi sorotan tajam. Deforestasi akibat alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit dan pertambangan batubara memicu banjir tahunan di sejumlah daerah. Kebakaran hutan dan lahan gambut pada musim kemarau masih mengancam, mengingat Sumsel merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di Indonesia. Masyarakat sipil mendesak Herman Deru untuk lebih tegas menegakkan regulasi lingkungan dan meninjau kembali izin konsesi perusahaan yang terbukti melanggar.
Harapan besar juga tertuju pada penyelesaian
Comments (0)